Peluang Dan Tantangan Santri

Salah satu kalangan yang tidak dapat dilupakan perjuangannya melawan imprealisme di Indonesia selama berabad-abad ialah santri. Sudah menjadi fakta sejarah bahwa peran santri sangatlah fundamental dalam mengusir segala bentuk imprealisme. Berawal dari pemberontakan yang selalu dipropagandakan  oleh Pangeran Diponegoro, yang kemudian diteruskan secara turun temurun kepada kalangan yang lumrah dikenal sebagai kalangan tradisionalis, yakni santri, dimana pesantren menjadi tempat sentralnya.

Bukanlah hal tabu kenapa santri menjadi golongan yang begitu represif dan sangat massif dalam menolak imperialisme. Karena santri dahulu tidak hanya dibekali dengan ilmu-ilmu agama, melainkan menjaga kebudayaan pula. Kebudayaan tersebut dapat digolongkan menjadi 2 kategori, kesenian dan kesustraan. Kategori pertama seperti pewayangan, tari-tarian, sekaten, tahlilan, kenduren dan sebagainya. Kategori kedua seperti tembang, kidung, pantun dan sebagainya.

Jika digarisbesarkan, kebudayaan Indonesia (dahulunya dinamakan nusantara) dapat diambil benang merah memiliki beberapa aspek nilai dan falsafah hidup menjadi orang nusantara. Di antaranya ialah agamis, humanis, sosialis, nasionalis, internasionalis, diplomatis, beradab dan berperadaban. Salah satu pandangan dari semangat nilai itu bisa dilihat dari ajaran Indonesia semisal bhinneka tunggal ika, mawayu haayuning bawana (memperindah kehidupan dunia), narimo ing pandum, macapat dan sebagainya. Dari genealogi aspek nilai dan falsafah tersebut kemudian melahirkaan idiologi Bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

Berbicara perihal santri dan kebudayaan sangat menarik untuk dibincangkan. Terutama jika perbincangan itu terfokuskan dalam lingkup peluang dan tantangan santri dahulu, dalam mengambil andil peran di zamannya melawan imperialisme. Sebagian pembaca mungkin akan bertanya, apa yang menjadi implikasi antara santri dan kebudayaan berperan mengusir imperialis? Untuk menjawab hal ini, perlulah kiranya kita sedikit mengetahui diskursus Filsuf asal Prancis, Louis Althusser. Bahwa, ”idiologi merupakan hal yang sangat signifikan dalam kehidupan. Lebih jauh, sejarah digerakkan oleh idiologi yang mendominasi.”

Meminjam diskursus tentang idiologi dari Althusser inilah Penulis menjawab pertanyaan di atas. Dalam lingkup skala makro, sudah menjadi barang tentu bahwa kebudayaan tidak terlepas dari unsur nilai dan idiologi. Dalam lingkup skala mikro, kebudayaan Indonesia memiliki nilai dan idiologi semangat menjaga keagamaan,  humanis, sosialis, nasionalis, internasionalis, beradab dan berperadaban yang tertanamkan kepada kesadaran individu. Nilai yang mengandung idiologi ini turun temurun bergerak secara eufani, di mana kebudayaan menjadi representasinya. Jadi, nilai yang berpotensi menjadi idiologi ini termanifestasikan dalam bentuk kebudayaan. Begitupun halnya kebudayaan merupakan representaasi dari idiologi yang terkandung di dalamnya nilai dan ajaran.

Wajar saja jika para santri dahulu begitu massif menolak aksi imperialisme. Karena hal itu bertentangan dengan adat istiadat, semangat kesadaran berkebudayaan beserta nilainya yang sudah terkonstruk mapan menjadi idiologi secara turun temurun. Lebih-lebih, kegiatan keseharian santri yang tak bisa terlepas dari rutinitas spiritual, memberikan potensi lebih melunakkan hati, mencerdaskan pikiran, menajamkan perasaan dan memperkuat kemauan. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka lebih berpotensi menerima ajaran kesadaran nilai dan falsafah hidup orang Indonesia yang menjadi idiologi tersebut.

Beberapa diskursus di atas ini menjadi mobilisator pemberontakan berupa penolakan segala aksi imperialisme dari berbagai daerah. Siapa sangka kalangan santri yang diklaim sebagai kalangan tradisionalis, menjadi hantu paling ditakuti oleh kalangan imperialisme. Hampir di seluruh daerah penggerak pemberontakan itu dimotori oleh kaum santri, di mana pesantren menjadi tempat sentralnya. Sehingga tanpa banyak basa-basi, tanpa disuruh dan tanpa perlu upaya penyadaran kolektif buruknya aksi imperialisme, secara reflek mereka sudah mengetahui bahwa aksi imperialism merupakan hal yang mesti dimusnahkan. Karena itu bertentangan dengan nilai dan falsafah mereka yang telah mendarah daging menjadi idiologi.

Kalangan kolonialis pun mengakui akan kualahannya menghadapi kalangan santri. Aksi teror sampai pertempuran yang bertubi-tubi ditujukan kepada santri, hingga kalangan santri sering mengalami kekalahan telak, sedikitpun tidak memadamkan kobaran semangat yang membara. Malah, berangkat dari kekalahan itulah mereka mengevaluasi kekalahannya, dan dengan itu semua mereka bertambah pula kobaran api semangatnya. Peristiwa 10 November bertempat di Surabaya cukup menjadi bukti peran santri dalam menolak imperialisme hingga mereka menuntun Indonesia menuju arah kemerdekaan. Penulis sepakat dengan apa yang penah ditulis oleh Mc Turnan Kahin, bahwa kemerdekaan Indonesia tak lain merupakan semangat menjaga kebudayaan dan semangat berislam nusantara.

Membaca tulisan di atas, maka akan kita ketahui betapa pentingnya peran santri dahulu dalam melahirkan kemerdekaan Indonesia. Dapat pula dikatakan, santri merupakan titik sentral paling urgen dalam melahirkan kemerdekaan Indonesia. Namun, jika kita melihat dinamika perkembangan santri kini, akan tampak suatu keparadoksalan. Jika santri dahulu berhasil dalam melahirkan dan menjaga kemerdekaan Indonesia, santri kini tampak impoten dalam menjaga kemerdekaan tersebut. Hal itu dapat dilihat dari minimnya peran santri pasca kemerdekaan. Lebih spesifiknya pasca era reformasi hingga kini dalam meneruskan cita-cita dan semangat kemerdekaan. Pada hal, setelah kemerdekaan hingga kini, Bangsa Indonesia mengalami dinamika tantangan yang tergolong akut.

Tidak bisa dipungkiri, sejatinya Indonesia memanglah merdeka. Namun itu hanya luarnya saja tidak sampai mencapai dalamnya. Berapa banyak masalah seputar kemiskinan, pembodohan, ketidakadilan dan masih banyak lagi yang tidak hanya cukup apabila dihitung dengan jari. Yang mana semuanya dapat mengancam NKRI dan berpotensi gagal dalam meneruskan cita-cita semangat kemerdekaan. Jika santri dahulu menjadi ancaman bagi kaum imperialism, sekarang santri dapat berpotensi melanggengkan aksi imperialisme gaya baru (neoimperialisme). Bagai mana tidak, hal itu dapat dilihat dari peran dan andil santri kini yang lebih memilih duduk terdiam tidak bangkit untuk melawan dalam menghadapi permasalahan imperialism gaya baru tersebut.

Berbeda halnya dengan imperialism gaya lama yang menjajah orang Indonesia dengan represif, neoimperialisme kini menjajah Indonesia dengan gaya penanaman kesadaran. Kesadaran itu berupa kebudayaan yang mengarahkan kepada individualistis, pragmatis, konsumeris dan hedonis. Sudah menjadi barang tentu aksi neoimperialis ini dengan segala keburukannya menjadi momok bagi nilai dan falsafah orang Indonesia. Baik imperialisme gaya lama dan gaya baru, keduanya sama-sama berpotensi mendestruksi cita-cita mulya kemerdekaan. Kemerdekaan yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan rakyat, memanusiakan rakyat dan mengantarkan Indonesia menuju negeri berperadaban, dapat terbengkalai, bahkan gagal karena adanya aksi neoimperialisme ini.

Sehubungan dengan itu, penting kiranya bagi kalangan santri, terutama di hari santri ini merefleksikan kembali akan peran santri yang seharusnya tidak hanya bisanya cuma mengaji. Dengan belajar dari peran santri dahulu hingga sampai mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan, sudah menjadi keharusan bagi  kaum santri kini membuka mata dan hati untuk menjaga sekaligus meneruskan cita-cita kemerdekaan yang belum selesai itu. Dalam hal ini, ada beberapa aspek yang perlu kiranya dalam pandangan penulis untuk dijadikan pijakan bagi kalangan santri. Namun, satu hallah yang dapat mengantarnya menuju kepada kesadaran signifikannya beberapa aspek lain itu. Yaitu, mempelajari filsafat.

Tujuan dari mempelajari filsafat di sini agar kaum santri dapat bertingkahlaku secara bijaksana dan dewasa. Dalam artian, dia tahu harus bagai mana dan akan kemana ia melangkah untuk mengkawal Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan mulyanya. Karena, penting untuk dicatat, filsafat tidak hanya berbicara cara memahami dunia. Melainkan, ia juga berbicara cara mengubahnya. Seperti yang dikatakan oleh Althusser, dengan filsafatlah manusia dapat bebas dari belenggu penindasan dan mengarahkan peminatnya ke arah revolusi.

Sebagai induk dari segala ilmu, filsafat juga dapat mengajarkan apa-apa yang dibutuhkan pembacanya sesuai situasi dan kondisi guna menuntun Indonesia ke arah cita-cita mulyanya. Misal politik, ekonomi, antropologi, sosiologi dsb. Selain itu, Filsafat, dengan arti etimologinya mencintai kebijaksanaan, dapat menyadarkan para peminatnya sekaligus penyadaran bagi selainnya. Termasuk dalam hal itu ialah menguak idiologi yang sedang mendominasi. Karena sebagai mana yang telah Penulis katakan di atas, neoimperialisme kini menjajah Indonesia secara kesadaran. Bahwa, kesadaran yang dikonstruk untuk orang Indonesia kini mengantarkan kepada hal-hal yang dapat mendestruksi semangat dan cita-cita kemerdekaan. Seperti individualis, pragmatis, hedonis, euforis, konsumeris dll. Sudah menjadi kewajiban bagi santri untuk menguak idiologi momok tersebut.

Kedua, sadar akan pentingnya menjaga nilai dan kebudayaan lama. Ada suatu perbedaan yang tergolong fundamental antara kebudayaan prakolonial dan postkolonial. Yaitu, kebudayaan prakolonial dapat tergolong kebudayaan yang sangat maju. Sedangkan kebudayaan postcolonial, seperti teknologi, gadget, pusat perbelanjaan dan hiburan (mall) dsb. Adapun barometer kemajuan di sini bukanlah diukur dari kecanggihan teknologi, pesatnya kemudahan dalam meyelesaikan pekerjaan sehari-hari maupun penyampaian informasi (gadget). Penulis sepakat dengan perkataan Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer dalam bukunya Dialektika Pencerahan (Der Dialectic Aufklarung, Jerman, red) akan barometer kemajuaan. Bahwa, kebudayaan tergolong maju apabila ia membebaskan dan memanusiakan manusia.

Fakta yang tak bisa dipungkiri dengan kehadiran teknologi bersama kawan-kawannya malah menindas orang Indonesia seperti mengalienasinya menjadi jauh dari nilai-nilai kemanusiaannya dan kepekaan sosialnya. Disadari atau tidak, orang Indonesia kini watak kepekaan sosialnya mulai terkikis. Tak khayal lagi, ini merupakan dampak dari neoimperialisme dimana teknologi dan kawan-kawannya merupakan mediatornya. Pada hal, masyarakat Indonesia dahulu, terlebih santri sangat sarat akan kepekaan social. Hal itu dapat diketahui akan salah satu ajaran kunonya, yaitu ilmu roso atau rumongso (ilmu rasa atau perasaan).

Dengan kembali kepada ajaran kunonya semisal mawahu hayuning bawana, yang mana ini merupakan keselaran antara ruang budaya (space culture) dan spiritual (space spiritual), santri diharapkan dapat menjawab tantangan zamannya. Dalam artian, mengimbangi dimensi al-turats, yakni menjaga tradisi yang baik, dan al-tajdid, yakni mengambil sekaligus mempertahankan hal baru yang lebih baik. Misal mempropaganda penyadaran kebaikan (amr ma’ruf nahi munkar) melalui media, memfungsikan media disertai IPTEK untuk melakukan control dan perubahan.

Sudah bukan zamannya santri kini hanya kompeten dalam bidang literasi kitab kuning. Sudah menjadi keharusan santri kini berbicara, lebih-lebih menguasai media, berbicara politik, ekonomi, social, nasionalisme, lokal dan interlokal. Di mana filsafat ialah pintu gerbang untuk menuju kepadanya. Ini semua merupakan tantangan yang tak lain merupakan warisan moral para pendahulunya. Di sisi lain, santri juga harus menjaga serta melestarikan ajaran dan kebudayaan lamanya. Bukan malah mengalienasi diri sendiri dengan memperkaya ilmu, nilai, serta menikmati kebudayaan yang merupakan bukan dari kebudayaannya sendiri.

Oleh: Crew LB

15 thoughts on “Peluang Dan Tantangan Santri

  • November 10, 2017 at 1:57 am
    Permalink

    My developer is trying to persuade me to move to .net from PHP.
    I have always disliked the idea because of the costs. But he’s tryiong none the less.
    I’ve been using Movable-type on numerous websites for about a year and am nervous about switching to another platform.
    I have heard excellent things about blogengine.net. Is there a way I can transfer all my wordpress posts
    into it? Any kind of help would be greatly appreciated!

    Reply
  • November 12, 2017 at 1:11 am
    Permalink

    When some one searches for his necessary thing, so he/she wants to be available that in detail, so that thing is
    maintained over here.

    Reply
  • November 12, 2017 at 4:14 pm
    Permalink

    Hi there colleagues, good piece of writing and nice arguments commented at this place, I am in fact enjoying by these.

    Reply
  • November 13, 2017 at 5:33 am
    Permalink

    After looking over a few of the blog posts on your web site, I honestly appreciate your technique of
    blogging. I book-marked it to my bookmark site list and will
    be checking back soon. Please check out my web site too and let me
    know your opinion.

    Reply
  • November 13, 2017 at 5:57 am
    Permalink

    What’s Going down i’m new to this, I stumbled upon this I have
    found It positively useful and it has aided me out loads. I
    hope to contribute & assist different users like its helped me.
    Good job.

    Reply
  • November 13, 2017 at 5:50 pm
    Permalink

    This excellent website really has all the information and facts I needed about this subject and didn’t know who to ask.

    Reply
  • November 15, 2017 at 3:49 am
    Permalink

    Hello there, I discovered your site via Google while searching for a
    similar subject, your web site came up, it appears good.
    I’ve bookmarked it in my google bookmarks.

    Hi there, just turned into aware of your weblog through Google, and located that it is
    truly informative. I am gonna watch out for brussels.
    I will be grateful for those who continue this in future.
    Lots of other people will be benefited out of your
    writing. Cheers!

    Reply
  • November 16, 2017 at 11:10 pm
    Permalink

    Do you mind if I quote a couple of your posts as long as I
    provide credit and sources back to your weblog?
    My blog site is in the exact same area of interest as yours and my visitors would definitely
    benefit from some of the information you provide here.
    Please let me know if this okay with you. Thanks a lot!

    Reply
  • November 23, 2017 at 9:32 pm
    Permalink

    Wonderful article! This is the type of information that are supposed to be shared across the internet.

    Disgrace on Google for no longer positioning this publish upper!
    Come on over and consult with my web site . Thank you =)

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.